Penggunaan Jerami Sebagai BBM Bernilai Tinggi. Sebuah Upaya Alternatif BBM Ramah Lingkungan. Beginilah Caranya...
Dalam menghadapi situasi global yang saat ini masih berkecamuk perang di kawasan Arab tentunya diperlukan inovasi-inovasi dalam berkehidupan. Terutama dalam kebutuhan energi untuk kehidupan sehari-hari, yakni gas dan BBM. Maka dalam artikel kali ini ini kami sajikan informasi tentang tehnik dan pembuatan bahan bakar minyak yang berbahan sampah pertanian, yakni jerami.
Minyak buatan tersebut diberi nama Bobibos, Bobibos ini diklaim memiliki RON 98. Bahan bakar alternatif ini juga diklaim ramah lingkungan karena dibuat dari limbah jerami di sawah.
Adapun penemu Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin, mengatakan produksi 3.000 liter bahan bakar berbasis nabati itu membutuhkan sekira 9.000 ton jerami atau setara satu hektare sawah padi. Chief Executive Officer (CEO) PT Inti Sinergi Formula itu mengatakan limbah batang kering dari tanaman padi diekstraksi dengan serum.
“Menggunakan mesin yang kami rancang. Ada lima tahap atau proses agar bahan baku tersebut menjadi bahan bakar ramah lingkungan Bobibos," kata Ikhlas.
Ikhlas, yang merupakan pemuda asal Jonggol, menyatakan Bobibos akan diproduksi secara massal pada tahun depan. Bahan bakar yang namanya berasal dari akronim 'Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!', belakangan menjadi pembicaraan karena diklaim memiliki nilai oktan (RON) 98. Bahan ini juga diklaim ramah lingkungan karena dibuat dari limbah pertanian.
Perlu diketahui, bahan bakar minyak (BBM) RON 98 selama ini tergolong sebagai kualitas tertinggi di pasaran, serta kerap digunakan mobil-mobil premium. Penemuan bahan bakar nabati ini disambut hangat oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang ikut mencoba pengujiannya secara langsung pada mesin traktor di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang. Dedi Mulyadi bahkan menawarkan limbah jerami dari 1.200 hektare sawah di Lembur Pakuan bahan baku Bobibos.
Ikhlas juga optimistis Bobibos bisa diproduksi dari Sabang sampai Merauke, mengingat banyaknya sawah yang dimiliki Indonesia. "Karena bisa diproduksi di semua daerah di Indonesia, maka harga jual bahan bakar merah (untuk solar) dan putih (untuk bensin) bisa satu harga. Kami berharap Bobibos bisa dijual dibawah Rp 10 ribu per liter," tutur dia.
Mulyadi, pemilik PT Inti Sinergi Formula, mengklaim dua negara di Asia dan Eropa, serta Brasil, juga sudah menyatakan tertarik terhadap Bobibos. “Namun kami sudah ada obrolan dengan BUMN, khususnya PT Pertamina, untuk kolaborasi, sehingga Bobibos bisa menjadi kebanggaan dan kadaulatan energi Indonesia," ujarnya.
Dia sebelumnya menyebut riset dan pengembangan Bobibos dilakukan 100 persen di dalam negeri. Bahan bakar alternatif ini dikembangkanmasih menunggu izin produksi massal dari pemerintah. Setelah diluncurkan pada 2 November lalu, sudah tersedia sekitar 3 ribu liter Bobibos. Hasil produksi itu dipakai untuk uji coba skala kecil di area Jonggol. Jon

Tidak ada komentar: